BAB
I
PENGAMATAN
1.1
Subjek
Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seorang siswi kelas X SMA N I
Medan yang bernama Maria Purba (15 tahun). Di sekolah dia mengikuti Organisasi
Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan ekstrakulikuler paduan suara (Sola Gratia) dia
bercita- cita menjadi seorang dokter. Selain itu aktivitasnya adalah bimbingan
disalah satu bimbingan belajar dikota ini, sehingga aktivitasnya lebih banyak
dengan teman- teman seusianya sehingga waktunya lebih banyak habis dengan
teman- temannya. Hal ini juga terlihat di rumah karena dari aktivitas di rumah
dia sering sekali menghabiskan waktu dengan teman- temannya di dunia maya
seperti BBM, twiter, dan Facebook. Maria lebih suka belajar di pagi hari dari
pada malan hari hal ini dikarenakan setelah pulang bimbingan belajar ia lebih
banyak menggunakan jejaring social, karena dia sampai di rumah sekitar jam
20.00 WIB sehingga wakttu belajarnya adalah di pagi hari + 2 jam di pagi hari, yaitu mulai jam 5 s/d 6.
Menurut
gurunya, Maria sangat aktif dalam kegiatan sekolahnya, termasuk ekstrakulikuler
dan serta sangat aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dari hasil ujian yang
diperolehnya ≥ 80 % . Hal ini dapat
lihat dari nilai ujiannya.
Menurut
orang tuanya Maria sangat aktif dalam kegiatan sekolahnya, termasuk
ekstrakulikuler dan serta sangat aktif dalam kegiatan belajar mengajar, dan
meraka mendukung sepenuhnya cita- cita Maria. Orang tua Maria selalu mengontrol
Maria dalam hal apa saja lewat HP (orang tua berada di kampung ) tetapi kadang
Maria merasa sedih karena karena waktu untuk “curhat” dengan mamanya jarang
sekali.
1.2 Observasi
Setelah penulis amati perhatiannya
mulai tertuju pada pergaulan di dalam masyarakat dan mereka membutuhkan
pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Pergaulannya banyak diwujudkan dalam bentuk kehidupan
kelompok terutama kelompok sebaya. Perkembangan maria dipengaruhi oleh beberapa
factor, yaitu : kondisi keluarga, kematangan anak, status social ekonomi
keluarga, pendidikan, dan kapasitas mental terutama intelek dan emosi. Hubungan
sosial maria terutama yang berkaitan dengan proses penyesuaian diri berpengaruh
terhadap tingkah laku, sifatnya keras, egois dan sangat mengagumi artis- artis
muda dan berbakat.
Dalam berteman dia
sangat Loyal, hal ini terlihat saat salah satu temannya sedang patah hati, dia
dan teman- temannya sampai tidak mengikuti les tambahan. Waktunya banyak
dihabiskan dengan mengikuti kegiatan organisasi di sekolah dan organisasi
keagamaan. Hal ini juga terlihat di rumah karena dari aktivitas di rumah dia
sering sekali menghabiskan waktu dengan teman- temannya di dunia maya seperti
BBM, twiter, dan Facebook.
Pada usia ini disebut
”usia berkelompok”, (gang) karena pada masa ini ditandai dengan adanya minat
terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk
diterima sebagai anggota kelompok di sekolahnya. Ia merasa tidak puas bila
tidak bersama teman-temannya. Maria
bermain bersama teman-teman sekolahnya dan akan merasa kesepian serta
tidak puas bila tidak bersama teman-temannya tersebut. Hubungan persahabatan
dan hubungan peer group di sekolah bersifat timbal balik diantara
sesama anggota kelompok ada saling pengertian, saling membantu,
saling percaya dan saling menghargai serta menerima satu sama lain.
1.3 Deskripsi Subjek
Dari hasil pengamatan
yang penulis lihat bahwa perkembangan sosialnya maria terutama yang berkaitan
dengan proses penyesuaian diri berpengaruh terhadap tingkah laku, sifatnya
keras, egois dan sangat mengagumi artis- artis muda dan berbakat seperti SM*SH,
SUJU dan lain- lain. Maria sangat aktif diberbagai organisasi sekolah dan
keagaamaan. Dia sudah belajar untuk menjadi seeorang pemimpin. Dia sangat
sering menggunakan jejaring social sehingga dia memiliki banyak teman di dunia
maya.
Maria
belajar berprilaku agar dapat diterima secara social, Memainkan
peran di lingkungan sosialnya. Percepatan perkembangan
pada masa puber berhubungan dengan pemasakan seksual yang akhirnya
mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial. Maria menjalin hubungan yang
erat dengan teman sebaya. Seiring dengan itu juga timbul kelompok
bermain bersama atau membuat rencana bersama

Maria sebagai objek penelian maria dengan temannya


BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Perkembangan
Sosial
Hubungan sosial merupakan hubungan
antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang
sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa,
kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian, tingkat hubungan sosial
juga berkembang menjadi amat kompleks. Pada jenjang perkembangan remaja,
seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan
pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan
sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan
meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Syamsu Yusuf (2007) menyatakan bahwa Perkembangan
sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan
sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri
terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu
kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial,
dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain.
Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul
dengan orang-orang dilingkungannya.
Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan
sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain,
terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum
dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras)
dan kasih sayang. Sunarto dan Hartono (1999) menyatakan bahwa:
Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar
manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana
dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan
bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat
hubungan sosial juga berkembang amat kompleks.
2.2
Karakteristik Perkembangan Sosial
Anak, Remaja dan Dewasa
Pada usia ini anak mulai memiliki
kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif
(bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain).
Berkat perkembangan sosial anak dapat
menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan
masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan
sosila ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas
kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik maupun tugas yang membutuhkan
pikiran. Hal ini dilakukan agar peserta didik belajar tentang sikap dan
kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati dan betanggung jawab.
Pada masa remaja berkembang ”social
cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami
orang lain sebagi individu yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai,
maupun perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap ”conformity”,
yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai,
kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya).
Apabila kelompok teman sebaya yang
diikuti menampilkan sikap dan perilaku yang secara moral dan agama dapat
dipertanggungjawabkan maka kemungkinan besar remaja tersebut akan menampilkan
pribadinya yang baik. Sebaliknya, apabila kelompoknya itu menampilkan sikap dan
perilaku yang melecehkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan remaja akan
melakukan perilaku seperti kelompoknya tersebut.
Selama masa dewasa, dunia sosial dan
personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan
masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa ini, individu memasuki peran kehidupan
yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam
beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan tersebut tidak disebabkan
oleh perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi lebih
disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga
dan pekerjaan. Selam periode ini orang melibatkan diri secara khusus dala
karir, pernikahan dan hidup berkeluarga. Menurut Erikson, perkembangan
psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting,
yaitu keintiman, generatif dan integritas.
2.3
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan,
dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
v
Keluarga
Keluarga
merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek
perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara
kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di
dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada
dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak. Proses pendidikan
yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh
keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap
lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.
v
Kematangan Anak
Bersosialisasi
memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam
proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan
intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula
menentukan.
Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
v
Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh
kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat.
Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi
akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak
siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan
kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya. Dari
pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif
yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan
sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya.
Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu
mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal
ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari
kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya
sendiri.
v
Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi
anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang
normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan
kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus
diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga,
masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja
diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan
pendidikan(sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada
norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan
bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk
perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
v
Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi
banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak
yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik.
Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan
pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam
perkembangan sosial anak. Sikap saling
pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam
kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang
berkemampuan intelektual tinggi.
2.4 Pengaruh Perkembangan Sosial
terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial anak, mereka dapat memikirkan
dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering
mengarah kepenilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain.
Hasil pemikiran dirinya tidak akan diketahui oleh orang lain, bahkan sering ada
yang menyembunyikannya atau merahasiakannya.
Pikiran
anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap
kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemampuan
abstraksi anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan
peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam
pikirannya.
Disamping
itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa :
1. Cita-cita
dan idealisme yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, tanpa
memikirkan akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang
mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
2. Kemampuan
berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain dalam
penilaiannya. Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta
dalam menghadapi pendapat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan
diakhir masa remaja sudah sangat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat
bergaul dengan baik.
2.5 Pengertian Perkembangan
Kepribadian
Secara
etimologis, kepribadian merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “personality”.
Sedangkan istilah personality secara etimologis berasal dari Bahasa
Latin “person” (kedok) dan “personare” (menembus). Persona biasanya dipakai
oleh para pemain sandiwara pada zaman kuno untuk memerankan satu bentuk tingkah
laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan personare
adalah bahwa para pemain sandiwara itu dengan melalui kedoknya berusaha
menembus keluar untuk mengekspresikan satu bentuk gambaran manusia tertentu.
Misalnya, seorang pemurung, pendiam, periang, peramah, pemarah, dan sebagainya.
Jadi, persona itu bukan pribadi pemain itu sendiri, tetapi gambaran pribadi
dari tipe manusia tertentu dengan melalui kedok yang dipakainya.
2.6
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian
Kepribadian
dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik hereditas (pembawaan) maupun lingkungan
(seperti fisik, sosial, kebudayaan, spiritual).
1. Fisik.
Faktor fisik yang dipandang mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah postur
tubuh (langsing, gemuk, pendek atau tinggi), kecantikan (cantik atau tidak
cantik), kesehatan (sehat atau sakit-sakitan), keutuhan tubuh (utuh atau
cacat), dan keberfungsian organ tubuh.
2. Intelegensi. Tingkat intelegensi individu
dapat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Idividu yang intelegensinya
tinggi atau normal biasa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara
wajar, sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan atau kendala
dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
3. Keluarga.
Suasana atau iklim keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak.
Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis,
dalam arti orang tua memberikan curahan kasih sayang, perhatian serta bimbingan
dalam kehidupan berkeluarga, maka perkembangan kepribadian anak tersebut
cenderung positif. Adapun anak yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang
broken home, kurang harmonis, orangtua bersikap keras terhadap anak atau tidak
memperhatikan nilai-nilai agama dalam keluarga, maka perkembangan
kepribadiannya cenderung akan mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam
penyesuaian dirinya.
BAB
III
PEMBAHASAN
Maria telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada
jenjang ini, kebutuhan Maria telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial
dan pergaulan Maria telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap
lingkungannya, Maria telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang
berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. Maria menghadapi berbagai lingkungan,
bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, Maria mulai
memahami norma pergaulan
dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua.
Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi
cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan
sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk
memilih teman hidup.
•
Maria mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan. Pergaulan
sesama teman lawan jenis dirasakan sangat penting, tetapi
cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesame remaja juga
terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk
memilih teman hidup
•
Kehidupan sosial Maria ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual
dan emosional. Maria sering
mengalami sikap hubungan sosial yang tertutup sehubungan dengan masalah yang
dialaminya
•
Maria sedang masa remaja
terjadi masa krisis, masa pencarian
jati diri.
•
Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk
kelompok – kelompok , baik kelompok besar maupun kelompok kecil .
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan penulis bahwa
•
Perkembangan social Maria terlihat bahwa perkembangan sosialnya sesuai
dengan perkembangan
usia 15 tahun Maria mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri
(egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau
memperhatikan kepentingan orang lain).
•
Perkembangan
sosial Maria dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun
dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Hal ini menuntun Maria tentang
bagaimana sikap dan memupuk kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati,
serta bertanggung jawab.
•
Pada masa
remaja ini Maria berkembang dalam hal ”social cognition”, yaitu
kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu
yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun perasaannya,
dan sikap ”conformity”, yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti
opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman
sebaya).
Implikasi Perkembangan Sosial
terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Remaja yang dalam masa mencari dan
ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai
dirinya atau sebaliknya. Mereka belum memahami benar tentang norma-norma social
yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya dapat menimbulkan
hubungan social yang kuarang serasi, karena mereka sukar untuk menerima norma
sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat. Sikap menentang dan sikap
canggung dalam pergaulan akan merugikan kedua belah pihak. Oleh karena itu,
diperlukan adanya upaya pengembangan hubungan social remaja yang diawali dari
lingkungan keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat.
1.
Lingkungan Keluarga
Orang
tua hendaknya mengakui kedewasaan remaja dengan jalan memberikan kebebasan
terbimbing untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab sendiri. Iklim
kehidupan keluarga yang memberikan kesempatan secara maksimal terhadp
pertumbuhan dan perkembangan anak akan dapat membantu anak memiliki kebebasan
psikologis untuk mengungkapkan perasaannya. Hoffman (1989) mengemukakan tiga
jenis pola asuh orang tua yaitu :
a)
Pola asuh bina kasih (induction)
b)
Pola asuh unjuk kuasa (power assertion)
c)
Pola asuh lepas kasih (love withdrawal)
2.
Lingkungan Sekolah
a)
Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsang
kepada mereka kearah perilaku yang bermanfaat.
b)
Perlu sering diadakan kegiatan kerja bakti , bakti karya untuk dapat
mempelajari remaja bersosialisasi sesamanya dan masyarakat.
BAB
IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat
mengemukakan simpulan sebagai berikut.
v
Perkembangan social adalah berkembangnya tingkat
hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kenutuhan hidup manusia.
v
Perhatian Maria mulai tertuju pada pergaulan di
dalam masyarakat dan mereka membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang
kompleks. Pergaulan Maria banyak diwujudkan dalam bentuk kehidupan kelompok
terutama kelompok sebaya.
v
Perkembangan social Maria dipengaruhi oleh
beberapa factor, yaitu : kondisi keluarga, kematangan anak, status social
ekonomi keluarga, pendidikan, dan kapasitas mental terutama intelek dan emosi.
v
Hubungan Maria terutama yang berkaitan dengan
proses penyesuaian diri berpengaruh terhadap tingkah laku, keras, remaja yang bersifat egois dan sebagainya.
4.2 Saran
Sejalan
dengan simpulan di atas, penyusun menyarankan setiap calon pendidik dapat
memahami konsep perkembangan sosial peserta didiknya. Dan untuk orang tua harus
mengasuh anaknya dengan kasih saying (kasih) agar perkembangan sianak norma-norma
kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa
perilaku kehidupan anak.
Daftar Pustaka
Kurnia, inggrid dkk. 2007. Perkembangan
Belajar Peserta Didik. Tidak diterbitkan.
Sunarto & Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
______. 2010. Perkembangan
Hubungan Sosial Remaja. (Online). (http://prince-mienu.blogspot.com/2010/01/makalah-tentang-perkembangan-hubungan.html). Diakses tanggal 2 Nopember 2011.
_______.2007. Perkembangan
Sosial Anak. (Online). (http://h4md4ni.wordpress.com/perkembang-anak/). Diakses tanggal 24 Nopember 2011.
_______.2010. Perkembangan
Hubungan Sosial. (Online). (http://www.g-excess.com/id/makalah-dan-pengertian-hubungan-sosial.html). Diakses tanggal 4 Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar