Sabtu, 12 November 2011

ppd


Tugas PPD

Michael Oher
                                                                                                                                             


D
I
S
U
S
U
N
Oleh:
NOVITA PURNAMA SARI SIMARMATA
409431025
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2011
Michael Oher 
Michael Oher Jerome lahir dengan namaMichael Jerome Williams, Jr pada tanggal 28 Mei 1986. Tidak banyak diketahui anak usia dini Michael karena dia memilih untuk tidak membicarakannya. Hal ini diketahui bahwa ia, dan 12 saudara lainnya, dibesarkan oleh ibunya yang berjuang karena kecanduan narkoba. Ayahnya dibunuh ketika ia masih muda sehinggaMichael memiliki memori sedikit tentang dia. Tumbuh di Memphis Utara, Oher adalah salah satu dari 13 anak-anak. Dengan ayahnya dibunuh dan ibunya menghadapi kecanduan obat, dia dipaksa untuk mengurus dirinya sendiri pada usia 7. Kisah hidupnya benar-benar dimulai dengan ingatan Michael awal. Karena ada sangat sedikit orang mengingat apa yang hidupnya seperti ketika ia masih kecil, memori Michael adalah catatan saja. Dia bahkan tidak tahu nama aslinya. Dia ingat tidur di teras dan meminta tetangga untuk makanan untuk makan saat ia masih sangat muda
Michael Oher selalu menggunakan pada insting misalnya  menggunakan teras depan tetangga sebagai kasur dan mengemis untuk makan selalu kabur dari rumah asuh. Melakukan apa pun yang dibutuhkan untuk matahari terbit berikut. Dia memiliki pendidikan yang keras sangat kasar tanpa pengawasan orangtua. Dia tidak punya satu. Dia bahkan tidak memiliki tukang sampah untuk membantu dia keluar dia tidak ada. Dengan harapan dia bisa berkontribusi untuk tim basket, ayah seorang teman membawanya ke Briarcrest Sekolah Tinggi Kristen. Perjalanan yang tidak diinginkan akan terbukti menjadi titik balik dalam kehidupan Oher itu awalnya bahwa ia telah kekurangan akademis (memiliki IPK 0,4 saat ia datang ke Briarcrest) . Ia telah terdaftar dalam program lain.
Seorang anak yang mempunyai perkembangan fisik yang sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dari bentuk tubuhnya  yang meliki tinggi yang berat badan yang  sekali jika dibanding besar jika dibandingkan dengan anak yang seusianya juga karna perbedaan ras (kulit hitam dan kulit putih). Karena bobot fisiknya yang berlebihan membuat dia memperoleh julukan/ nickname Big Mike semua orang yang mengenal dia akan memanggil dia dia dengan Sebutan Big Mike sehingga dia merasa tidak percaya diri lagi, di merasa tidak diterima oleh orang-orang disekitarnya. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap perkembangan intelektual, emosi dan moralnya.
Ibu asuh mengatakan bahwa Michael hanya perlu untuk dicintai. Aku memeluknya selama setahun sebelum dia bahkan memelukku kembali. Saya berpikir bahwa itu adalah pertama kali dalam hidupnya bahwa seseorang telah membuktikan bahwa ia tahu dalam bukunya mendengar bahwa mereka telah mencintainya untuknya. Menuju bahwa akhir semester pertama, Oher itu diambil dari masa percobaan dan diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam atletik. Akhirnya, ia menemukan dirinya di lapangan sepak bola. Ukuran besar dan atletis Oher sensasionalnya membuatnya sempurna untuk posisi gelandang. Hampir seketika, kombinasi langka tentang ukuran dan kecepatan mendarat Oher sebagai prospek nomor satu gelandang ofensif di negaranya dan semua orang menginginkan jasanya dan dia menjadi bintang besar. Inilah kisah hidup seorang bintang sebesar Michael Oher.
Dari film yang telah saya  tonton maka saya akan membahas tiga perkembangan Michael Oher, yaitu
a.       perkembangan intelektual (kecerdasan intelektual / IQ),
b.      perkembangan emosinal( kecerdasan emosional/ EQ), dan
c.       perkembangan sosial.

a. Perkembangan Intelektual
Menurut saya tahapan perkembangan Michael masih dalam tahapan operasional formal karena meskipun usianya hampi 18 tahun tetapi dia belum mampu untuk memahami hal yang bersifat abstrak. Hal ini terlihat pada saat dia latihan olahraga dia sulit untuk memahami keterangan sang pelatihnya. Akan tetapi setelah diajarkan oleh orang tua angkatnya ketika Anne/ orang tua angkat Michael mengibaratkan bahwa kelompok/ timnya adaalah keluarga yang harus dilindungi maka Michael dapat menangkap apa yang harus dia lakuka dalam melakukan hal yang harus dia lakukan.
Menurut Piaget pada  tahap operasional formal (dari usia 11 sampai 15 tahun). Pada tahap ini, individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman konkrit dan berpikir secara abstrak dan lebih logis. Sebagai pemikiran yang abstrak, remaja mengembangkan gambaran keadaan yang ideal. Mereka dapat berpikir seperti apakah orangtua yang ideal dan membandingkan orangtua mereka dengan standar ideal yang mereka miliki. Mereka mulai mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan bagi masa depan dan terkagum-kagum terhadap apa yang mereka lakukan.
Ahli yang kedua yaitu Vygotsky yang mendasarkan pada tiga ide utama: bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah ketahui; bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual; peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa. Teori perkembangan ini menekankan pada pentingnya konteks social dan interaksi dengan orang lain dalam proses belajar. Ada dua teori belajar yang dikemukakan oleh vygotsky yaitu tentang “zone of proximal development (ZPD)”, dan peranan konteks social dan kebudayaan dalam belajar.
ZPD berhubungan dengan potensi anak untuk memahami sesuatu. Untuk mencapai pemahaman anak dapat belajar sendiri atau melalui bantuan dari lingkungan social atau orang lain. Tetapi anak akan dapat mencapai tingkat pemahaman atau perkembangan yang potensial jika dibimbing atau diberi bantuan yang tepat dan bermakna dari orang lain ( orang dewasa dan teman – temannya ), dibandingkan dengan belajar sendiri. Bantuan yang diberikan kepada anak dalam proses belajar itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalanya penjelasan dari guru, diskusi dengan orang tua, penjelasan dari teman – teman. Bantuan - bantuan itu berfungsi untuk menopang dan memperluas pemahaman anak dalam area ZPD. Ibarat orang membangun rumah, setelah pondasi dibuat, untuk membangun tembok dan atap diperlukan penyangga sehingga bangunan itu dapat dibangun dari bawah ke atas hingga tembok dan atap dapat terpasang semua. Setelah tembok selesai dibangun, atap selesai dipasang dan bangunan sudah kuata dan aman maka penyangga mulai dilepaskan sehingga rumah dapat berdiri kokoh dan berfungsi dengan baik tanpa bantuan penyangga. Dengan demikan dalam proses belajar, untuk mencapai pemahaman pada mulanya anak diberikan bantuan atau bimbingan untuk mencapai perkembangan yang optimal, setelah itu secara bertahap bantuan itu dikurngi sampai akhirnya tidak diberikan sama sekali, sehingga anak dapat memahami apa yang mereka pelajari.

b. Perkembagan emosi
Emosi merupakan gejala psikis yang bersifat subjetif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenai dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf. “Perkembangan emosi menempuh beberapa tahap beriring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak”.(Martoenoes, 1998: 55)
Oher dilihat dari perkembangan emosionalnya akan berkembang ke peringkat yang seterusnya yaitu apabila seseorang mampu mengaitkan emosi dengan pemikiran. Pengalaman dari apa yang dilihat, didengar dan dialami ditunjukkan secara langsung sebagai reaksi emosi. Reaksi-reaksi tersebut akan disimpan dalam memori yang akan digunakan dalam proses pemikiran kelak di dalam memahami emosi kemampuannya untuk menerima kekecewaan, penolakan serta menjadi seorang yang fleksibel dalam mengawal emosi dan seterusnya dorongan. Film tersebut dapat dilihat bahwa Oher
Dari film tersebut dapat kita lihat karakteristik  emosi, antara lain sebagai berikut:
a.       Berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba: hal ini terlihat ketika dia dipengaruhi oleh seseorang dari bagian pemerintahan yang ingin mengintrogasi dia.
b.      Terlihat lebih hebat atau kuat
c.       sementara atau dangkal.
d.      Hal ini dilihat ketika dia diinterogasi departemen kependudukan maka ia lari dari keluarga angkatnya. Tetapi setelah dia  sadar maka ia kembali kepada Keluarganya karena dia merasa mempunyai tempat yang nyaman dengan keluarga angkatnya.
e.       Lebih sering terjadi
Seperti yang dikatakan ibu kandungnya dalam film itu bahwa Michael sering melarikan diri dari keluarga yang mengangkatnya. Tetapi setelah di keluarga Mr. Tuhoy
f.       Dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya.
g.      Reaksi mencerminkan individualitas
Ada dua kondisi yang mempengaruhi perkembangan emosi, berikut uraiannya dari buku Perkembangan Anak karya Elizabeth Hurlock
1.      Peran Pematangan
Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi endokrin yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stres. Kelenjar adrenalin memainkan peran utama dalam emosi yang mengecil secara tajam ketika bayi baru lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat saat anak berusia 5 tahun. Pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun, dan membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun kelenjar tersebut kembali keukuran semula seperti pada saat anak lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan sampai saat kelenjar itu membesar. Pengaruhnya penting terhadap keadaan emosional pada masa kanak-kanak.
2.      Peran Belajar
Lima jenis kegiatan belajar turut menunjang pola perkembangan emosi pada masa kanak-kanak. Terlepas dari metode yang digunakan, dari segi perkembangan anak harus siap untuk belajar sebelum tiba saatnya masa belajar. Sebagai contoh, bayi yang baru  lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan system saraf dan otot, anak-anak mengembangkan potensi untuk berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar mereka akan menentukan reaksi potensial mana yang akan mereka gunakan untuk menyatakan kemarahan.
            Dari hal tersebut dapat kita lihat bahwa Oher kecerdasan emosi bermula sejak kecil dan dengan itu, ibu bapa memiliki peranan terpenting dalam membina kecerdasan emosi anak-anak. Tetapi Michael tidak memperoleh itu karena keadaan keluarganya yang tidak utuh. Maka perkembangan emosi Michael sangat
c.             Perkembangan Sosial
Emosi dan moral sangat erat kaitannya, sehingga perkembangan moral dan perkembangan social sangat berpengaruh. Maka dari film tersebut dapat kita lihat bahwa:
a.       Perkembangan social Michael Oher berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kenutuhan hidup manusia.
b.      Perhatian Michael mulai tertuju pada pergaulan di dalam masyarakat dan dia  membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Michael  tidak pernah bergaul dengan sebayanya karena dia tidak pernah diterima lingkungannya.
c.       Perkembangan Michael dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : kondisi keluarganya, kematangannya, status sosial ekonomi keluarga, pendidikan, dan kapasitas mental terutama intelek dan emosi (naluri protective).
d.      Hubungan sosial remaja Michael berkaitan dengan proses penyesuaian dirinya dan berpengaruh terhadap tingkah laku, seperti kebiasaannya yang mengisolasi diri.

  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
1.       Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dengan demikian maka perkembanga sosial anak ditentukan oleh keluarga. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.
Michael tidak pernah merasakan kasih sayang dan kehangatan dikeluarganya. Hal ini sangat berpengaruh pada diri si Michael.
2.         Kematangan Anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula  menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
Michael mempunyai fisik yang sangat atletis/ big sehingga orang di sekitarnya merasa aneh/ tidak ada yang mau berteman dengan dia (dia menjadi malu atas kekurangannya sehingga dia cenderung menutup diri) meskipun pada akhirnya itu juga yang membawa dia menjadi seorang bintang.
3.       Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok dengan normanya sendiri.
Status kehidupan sosial keluarga Michael  dalam lingkungan mereka sangat buruk (mamanya pecandu dan papanya tewas dibunuh ketika ia masih kecil) sehingga ia minder diantara teman- teman seusianya.
4.      Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan   pendidikan(sekolah).
      Michael belum pernah belajar disekolah kerena untuk makan saja kadang makan kadang tidak.
5.      Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan    sosial    anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi. Michael mempunyai IQ yang rata- rata bawah, tidak pernah bicara dengan orang lain. Sehingga perkembangan sosialnya sangat tidak sesuai dengan perkembangan usianya.






Kesimpulan
Pengembangan potensi peserta didik merupakan proses yang disengaja dan sistematis dalam membiasakan/mengkondisikan peserta didik agar memiliki kecakapan dan keterampilan hidup. Untuk dapat mengembangkan, sebelum ataupun bersamaan dengan usaha kongkrit dilakukan, sangat perlu adanya pengertian dan pemahaman para pendidik/ orang tua terhadap remaja.5 Kecakapan dan keterampilan yang dimaksud berarti luas, baik kecakapan personal (personal skill) yang mencakup; kecakapan mengenali diri sendiri (self awareness) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), maupun kecakapan vokasional (vocational skill). Kegiatan pendidikan pada tahap melatih lebih mengarah pada konsep pengembangan kemampuan motorik peserta didik. Terkait dengan proses melatih ini, perlu dilakukan pembiasaan dan pengkondisian anak dalam berpikir secara kritis, strategis dan taktis dalam proses pembelajaran
  Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, penyusun menyarankan setiap calon pendidik dapat memahami konsep perkembangan sosial peserta didiknya.


Rabu, 02 November 2011

uuuuhhhh

Kebahagiaan Dalam Memberi
Suatu sore, seorang mahasiswa berjalan bersama rekannya.
Ketika mereka melihat sepasang sepatu butut di tepi jalan. Mereka yakin sepatu tersebut milik seorang pekerja rendahan yang bekerja dihutan.
Sang mahasiswa berpaling pada rekannya seraya berkata, "Bagaimana kalau kita sembunyikan sepatunya,lalu kita bersembunyi dibalik semak-semak dan melihat apa yang terjadi kemudian."
Rekannya itu menjawab, "Sobatku, kita tidak seharusnya bersenang2 dengan mengorbankan orang miskin.
Engkau dapat melakukan sesuatu yang lebih baik, dan itu akan mendatangkan kesenangan besar dalam dirimu. Caranya adalah memasukkan uang kedalam kedua sepatu bututnya. Setelah itu kita bersembunyi untuk melihat reaksi orang tersebut."
Mahasiswa itu pun melakukan apa yg dikatakan rekannya,lalu mereka bersembunyi di balik semak2. Tak lama kemudian, si empunya sepatu keluar dari hutan dan bergegas mengambil sepatunya. Ketika memasukkan salah satu kakinya,ia merasakan ada benda yg mengganjal. Ia pun merogoh ke dalam sepatu. Ia nampak terkejut dan terheran karena ada uang dalam sepatunya. Ia memegang sambil menatap uang tersebut, lalu melihat ke sekeliling apakah ada org di sekitarnya. Tapi,ia tidak melihat seorangpun disana. Lalu ia memasukkan uang tersebut kekantongnya,sambil memasang sepatu lainnya.
Tapi,lagi2 ia terkejut karena ada uang dalam sepatunya yang satu lagi. Perasaan haru menguasainya, ia jatuh tersungkur dan menengadah ke atas. Doa ucapan syukur terdengar jelas dari mulutnya.
Ia berbicara mengenai istrinya yang sakit, serta anaknya yang kelaparan karena tak ada uang. Ia bersyukur atas kemurahan yg Tuhan berikan melalui orang yg ia tidak ketahui.
Melihat hal itu,sang mahasiswa meneteskan airmata dan sangat terharu.
Ia berpaling pada rekannya seraya berkata,"kau telah memberiku pelajaran yang tak kan kulupakan. Kini aku mengerti bahwa lebih berbahagia memberi daripada menerima".

Sekolah Para Bin*a*tang



Syahdan, terbetiklah sebuah kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil. Mereka, para binatang besar itu, berencana menciptakan sebuah sekolah yang di dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.
Anehnya, mereka tidak dapat mengambil kata sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Jadi, setiap murid harus mengikuti mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.
Sekolah pun dibuka dan menerima murid dari pelbagai pelosok hutan.
Pada saat-saat awal dikabarkan bahwa sekolah berjalan lancar.
Seluruh murid dan pengajar di sekolah itu menikmati segala kebaruan dan keceriaan.
Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah itu.
Tersebutlah salah satu murid bernama Kelinci. Kelinci jelas adalah binatang yang piawai berlari. Ketika mengikuti kelas berenang, Kelinci ini hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang ternyata mengguncang batinnya.
Lantaran sibuk mengurusi pelajaran berenang, si Kelinci ini pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya.
Setelah kasus yang menimpa Kelinci, ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah. Ini melanda murid lain bernama Elang. Elang, jelas, sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si Elang ini tidak mampu menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun harus mengikuti les perbaikan menggali. Les itu ternyata menyita waktunya sehingga ia pun melupakan cara terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.
Demikianlah, kesulitan demi kesulitan ternyata melanda juga ke diri binatang-binatan lain, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ular, dan binatang kecil lain.
Para binatang kecil itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka.

i'm new blogger

Percaya Kemampuan Diri Sendiri
WAKTU masih kecil, Anda mungkin pernah mendengar kisah adaptasi �The Little Engine That Could�? Buku itu bercerita tentang kereta api yang bergerak ke bukit dengan perlahan dan tersendat. Lokomotifnya berkata pada diri sendiri, �Aku bisa, aku bisa, aku bisa.� Kereta pun terus bergerak perlahan naik hingga tiba di bukit dengan selamat.
Pelajaran sederhana yang dapat diberikan ialah: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Seandainya lokomotif itu tidak percaya akan kemampuannya tiba di atas bukit, bisa jadi kisah dalam buku itu berakhir menyedihkan.
Bukan hanya lokomotif itu saja yang dapat mengatakan, �Aku bisa, aku bisa, aku bisa�, tetapi Anda pun dapat melakukan yang sama. William Arthur Ward, penulis kondang asal Amerika mengatakan, �Saya adalah pemenang karena saya berpikir seperti pemenang, bersiap jadi pemenang, dan bekerja serupa pemenang.� Ward betul, jika Anda berpikir menjadi seorang pemenang, maka memang benar Anda seorang pemenang.
Kisah heroik lokomotif itu dalam dunia nyata dibuktikan sendiri oleh Hendrawan, atlet bulutangkis Indonesia. Tahun 1997, Hendrawan dinyatakan sudah habis oleh PBSI. Karena faktor usia dan prestasinya yang menurun, PBSI bermaksud mengeluarkan Hendrawan dari Tim Pelatnas. Tapi Hendrawan punya keyakinan sendiri, bahwa ia percaya kemampuannya dan belumlah habis. Hendrawan masih percaya bahwa ia dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi, dan diiringi kerja keras yang tidak lelah, Hendrawan menunjukkan kepada dunia bahwa ia memang mampu meraih prestasi luar biasa.
Hendrawan membuktikan kemampuannya telah sempat dinyatakan sudah habis. Tahun 1998, Hendrawan menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Juga ia menjuarai Singapura Terbuka. Kemudian di tahun 2000, Hendrawan kembali menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Di tahun itu pula ia mengukir namanya dengan meraih medali perak dalam Olimpiade Sydney. Masih di tahun yang sama, ia menjadi runner up Jepang Terbuka. Dan pada tahun 2001, ia menjadi Juara Dunia Tunggal Putra, sebuah gelar yang menjadi idaman pebulutangkis manapun di dunia. Tahun 2002, ia kembali membawa Indonesia mempertahankan Piala Thomas ke Tanah Air.
Percaya kemampuan diri sendiri tak harus ditunjukkan oleh mereka yang berprofesi sebagai atlet, yang bekerja di kantoran, yang mempunyai stamina fisik yang prima, atau mereka yang masih muda dan memiliki semangat menggebu-gebu. Percaya pada diri sendiri, percaya akan kemampuannya, dapat ditunjukkan oleh siapa pun. Tanpa mengenal pekerjaan, status, umur, dan jenis kelamin.
Tahun 1988, nama Mak Eroh sempat menyedot publik nasional. Saat itu, semua orang ramai memperbincangkannya . Mak Eroh, waktu itu berumur 50 tahun, perempuan dari Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat memang telah mengukir prestasi besar.
Apa yang membuat nama Mak Eroh melambung? Mak Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung. Mak Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air sepanjang 47 hari. Ketika pertama kali Mak Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja. Mak Eroh percaya akan kemampuan nya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda. Seorang wanita yang mustinya menikmati hari tuanya dengan menimang atau bermain dengan cucu.
Mak Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk �mengebor� tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, serupa linggis pendek.
Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan. Berhentikah tindakan Mak Eroh mengebor tebing cadas? Belum. Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Mak Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Bukan main! Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Mak Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Mak Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.
Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.
Dua kisah di atas memberi hikmah bahwa sebenarnya kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki. Seperti yang dikatakan oleh Mary Kay Ash, pengusaha kosmetik sukses asal Amerika, �Anda bisa melakukannya jika Anda berpikir demikian, dan jika Anda kira tidak dapat melakukannya, Anda benar.� Percaya akan kemampuan diri sendiri. Jadilah lokomotif, dan teruslah bergerak untuk maju.
�Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda.�

Berhentilah Mengeluh



Pantaskah anda mengeluh? Padahal anda telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah anda berkeluh kesah? Padahal anda telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan anda untuk membenahi segala sesuatunya.
Apakah anda bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab anda? Janganlah kekuatan yang ada pada diri anda, terjungkal karena anda berkeluh kesah. Ayo tegarkan hati anda. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena anda tidak tahu jawaban dari masalah anda tersebut.
Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kamu. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak anda. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru.
Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding anda. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani daripada mereka sesali. Jika demikian masihkan anda lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup ini?






Kepiting Marah
Beberapa tahun yang lalu, teman saya mengajak saya memancing Kepiting. Bagaimana cara memancing Kepiting?
Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, di ujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil. Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting itu marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.
Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala.
Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan-nya dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.
Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.
Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena : MARAH.
Jadi kalau kita menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka kita mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan kita

ppd (perkembangan peserta didik)


BAB I
PENGAMATAN
1.1              Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seorang siswi kelas X SMA N I Medan yang bernama Maria Purba (15 tahun). Di sekolah dia mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan ekstrakulikuler paduan suara (Sola Gratia) dia bercita- cita menjadi seorang dokter. Selain itu aktivitasnya adalah bimbingan disalah satu bimbingan belajar dikota ini, sehingga aktivitasnya lebih banyak dengan teman- teman seusianya sehingga waktunya lebih banyak habis dengan teman- temannya. Hal ini juga terlihat di rumah karena dari aktivitas di rumah dia sering sekali menghabiskan waktu dengan teman- temannya di dunia maya seperti BBM, twiter, dan Facebook. Maria lebih suka belajar di pagi hari dari pada malan hari hal ini dikarenakan setelah pulang bimbingan belajar ia lebih banyak menggunakan jejaring social, karena dia sampai di rumah sekitar jam 20.00 WIB sehingga wakttu belajarnya adalah di pagi hari +  2 jam di pagi hari, yaitu mulai jam 5 s/d 6.
Menurut gurunya, Maria sangat aktif dalam kegiatan sekolahnya, termasuk ekstrakulikuler dan serta sangat aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dari hasil ujian yang diperolehnya ≥ 80 % .  Hal ini dapat lihat dari nilai ujiannya.
Menurut orang tuanya Maria sangat aktif dalam kegiatan sekolahnya, termasuk ekstrakulikuler dan serta sangat aktif dalam kegiatan belajar mengajar, dan meraka mendukung sepenuhnya cita- cita Maria. Orang tua Maria selalu mengontrol Maria dalam hal apa saja lewat HP (orang tua berada di kampung ) tetapi kadang Maria merasa sedih karena karena waktu untuk “curhat” dengan mamanya jarang sekali.
1.2      Observasi
Setelah penulis amati perhatiannya mulai tertuju pada pergaulan di dalam masyarakat dan mereka membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Pergaulannya  banyak diwujudkan dalam bentuk kehidupan kelompok terutama kelompok sebaya. Perkembangan maria dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : kondisi keluarga, kematangan anak, status social ekonomi keluarga, pendidikan, dan kapasitas mental terutama intelek dan emosi. Hubungan sosial maria terutama yang berkaitan dengan proses penyesuaian diri berpengaruh terhadap tingkah laku, sifatnya keras, egois dan sangat mengagumi artis- artis muda dan berbakat.
Dalam berteman dia sangat Loyal, hal ini terlihat saat salah satu temannya sedang patah hati, dia dan teman- temannya sampai tidak mengikuti les tambahan. Waktunya banyak dihabiskan dengan mengikuti kegiatan organisasi di sekolah dan organisasi keagamaan. Hal ini juga terlihat di rumah karena dari aktivitas di rumah dia sering sekali menghabiskan waktu dengan teman- temannya di dunia maya seperti BBM, twiter, dan Facebook.
Pada usia ini disebut ”usia berkelompok”, (gang) karena pada masa ini ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok di sekolahnya. Ia merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Maria  bermain bersama teman-teman sekolahnya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman-temannya tersebut. Hubungan persahabatan dan hubungan peer group di sekolah bersifat timbal balik diantara sesama anggota kelompok ada saling pengertian,  saling membantu, saling percaya dan saling menghargai serta menerima satu sama lain.

1.3      Deskripsi Subjek
Dari hasil pengamatan yang penulis lihat bahwa perkembangan sosialnya maria terutama yang berkaitan dengan proses penyesuaian diri berpengaruh terhadap tingkah laku, sifatnya keras, egois dan sangat mengagumi artis- artis muda dan berbakat seperti SM*SH, SUJU dan lain- lain. Maria sangat aktif diberbagai organisasi sekolah dan keagaamaan. Dia sudah belajar untuk menjadi seeorang pemimpin. Dia sangat sering menggunakan jejaring social sehingga dia memiliki banyak teman di dunia maya.
Maria belajar berprilaku  agar dapat diterima secara social, Memainkan peran  di lingkungan sosialnya. Percepatan  perkembangan pada masa puber berhubungan dengan pemasakan seksual yang akhirnya mengakibatkan suatu perubahan dalam perkembangan sosial. Maria  menjalin  hubungan yang erat  dengan teman sebaya. Seiring dengan itu juga timbul kelompok bermain bersama atau membuat rencana bersama
   
Maria sebagai objek penelian                  maria dengan temannya
 

 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Perkembangan Sosial
Hubungan sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian, tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Syamsu Yusuf (2007)  menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
 Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang. Sunarto dan Hartono (1999) menyatakan bahwa:
Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks.



2.2  Karakteristik Perkembangan Sosial Anak, Remaja dan Dewasa
Pada usia ini anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain).
Berkat perkembangan sosial anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosila ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Hal ini dilakukan agar peserta didik belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati dan betanggung jawab.
Pada masa remaja berkembang ”social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap ”conformity”, yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya).
Apabila kelompok teman sebaya yang diikuti menampilkan sikap dan perilaku yang secara moral dan agama dapat dipertanggungjawabkan maka kemungkinan besar remaja tersebut akan menampilkan pribadinya yang baik. Sebaliknya, apabila kelompoknya itu menampilkan sikap dan perilaku yang melecehkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan remaja akan melakukan perilaku seperti kelompoknya tersebut.
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa ini, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi lebih disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan keluarga dan pekerjaan. Selam periode ini orang melibatkan diri secara khusus dala karir, pernikahan dan hidup berkeluarga. Menurut Erikson, perkembangan psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting, yaitu keintiman, generatif dan integritas.

2.3  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
v    Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.
v    Kematangan Anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula  menentukan.
Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
v    Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya. Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
v    Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan   pendidikan(sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

v    Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan    sosial    anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.

2.4 Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku

Dalam perkembangan sosial anak, mereka dapat memikirkan dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kepenilaian diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Hasil pemikiran dirinya tidak akan diketahui oleh orang lain, bahkan sering ada yang menyembunyikannya atau  merahasiakannya.
Pikiran anak sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain, termasuk kepada orang tuanya. Kemampuan abstraksi anak sering menimbulkan kemampuan mempersalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semstinya menurut alam  pikirannya.
Disamping itu pengaruh egoisentris sering terlihat, diantaranya berupa :
1.     Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitik beratkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat labih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan tidak berhasilnya menyelesaikan persoalan.
2.     Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri, belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. Melalui banyak pengalaman dan penghayatan  kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, maka sikap ego semakin berkurang dan diakhir masa remaja sudah sangat kecil rasa egonya sehingga mereka dapat bergaul dengan baik.



2.5  Pengertian Perkembangan Kepribadian
            Secara etimologis, kepribadian merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “personality”. Sedangkan istilah personality secara etimologis berasal dari Bahasa Latin “person” (kedok) dan “personare” (menembus). Persona biasanya dipakai oleh para pemain sandiwara pada zaman kuno untuk memerankan satu bentuk tingkah laku dan karakter pribadi tertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan personare adalah bahwa para pemain sandiwara itu dengan melalui kedoknya berusaha menembus keluar untuk mengekspresikan satu bentuk gambaran manusia tertentu. Misalnya, seorang pemurung, pendiam, periang, peramah, pemarah, dan sebagainya. Jadi, persona itu bukan pribadi pemain itu sendiri, tetapi gambaran pribadi dari tipe manusia tertentu dengan melalui kedok yang dipakainya.

2.6  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian

Kepribadian dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik hereditas (pembawaan) maupun lingkungan (seperti fisik, sosial, kebudayaan, spiritual).
1.   Fisik. Faktor fisik yang dipandang mempengaruhi perkembangan kepribadian adalah postur tubuh (langsing, gemuk, pendek atau tinggi), kecantikan (cantik atau tidak cantik), kesehatan (sehat atau sakit-sakitan), keutuhan tubuh (utuh atau cacat), dan keberfungsian organ tubuh.
2.   Intelegensi. Tingkat intelegensi individu dapat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Idividu yang intelegensinya tinggi atau normal biasa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara wajar, sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan atau kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
3.   Keluarga. Suasana atau iklim keluarga sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis, dalam arti orang tua memberikan curahan kasih sayang, perhatian serta bimbingan dalam kehidupan berkeluarga, maka perkembangan kepribadian anak tersebut cenderung positif. Adapun anak yang dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang broken home, kurang harmonis, orangtua bersikap keras terhadap anak atau tidak memperhatikan nilai-nilai agama dalam keluarga, maka perkembangan kepribadiannya cenderung akan mengalami distorsi atau mengalami kelainan dalam penyesuaian dirinya.

















BAB III
PEMBAHASAN

Maria  telah mencapai jenjang menjelang dewasa. Pada jenjang ini, kebutuhan Maria telah cukup kompleks, cakrawala interaksi sosial dan pergaulan Maria telah cukup luas. Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungannya, Maria telah mulai memperlihatkan dan mengenal berbagai norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku sebelumnya di dalam keluarganya. Maria menghadapi berbagai lingkungan, bukan saja bergaul dengan berbagai kelompok umur. Dengan demikian, Maria mulai memahami norma pergaulan dengan kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan yang paling penting tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesama remaja, juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup.
                     Maria  mulai memperhatikan dan mengenal berbagai norma pergaulan. Pergaulan sesama teman lawan jenis dirasakan sangat penting, tetapi cukup sulit, karena di samping harus memperhatikan norma pergaulan sesame remaja juga terselip pemikiran adanya kebutuhan masa depan untuk memilih teman hidup
                     Kehidupan sosial Maria ditandai dengan menonjolnya fungsi intelektual dan emosional. Maria sering mengalami sikap hubungan sosial yang tertutup sehubungan dengan masalah yang dialaminya
                     Maria sedang  masa remaja terjadi masa krisis, masa pencarian jati diri.
                     Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok – kelompok , baik kelompok besar maupun kelompok kecil .
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan penulis bahwa
                     Perkembangan social Maria terlihat bahwa perkembangan sosialnya sesuai dengan perkembangan usia 15 tahun Maria mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain).
                     Perkembangan sosial Maria dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Hal ini menuntun Maria tentang bagaimana sikap dan memupuk kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati, serta  bertanggung jawab.
                     Pada masa remaja ini Maria berkembang dalam hal ”social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun perasaannya, dan sikap ”conformity”, yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya).

 Implikasi Perkembangan Sosial terhadap Penyelenggaraan Pendidikan

  Remaja yang dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Mereka belum memahami benar tentang norma-norma social yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya dapat menimbulkan hubungan social yang kuarang serasi, karena mereka sukar untuk menerima norma sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat. Sikap menentang dan sikap canggung dalam pergaulan akan merugikan kedua belah pihak. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pengembangan hubungan social remaja yang diawali dari lingkungan keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat.
1.    Lingkungan Keluarga
Orang tua hendaknya mengakui kedewasaan remaja dengan jalan memberikan kebebasan terbimbing untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab sendiri. Iklim kehidupan keluarga yang memberikan kesempatan secara maksimal terhadp pertumbuhan dan perkembangan anak akan dapat membantu anak memiliki kebebasan psikologis untuk mengungkapkan perasaannya. Hoffman (1989) mengemukakan tiga jenis pola asuh orang tua yaitu :

a)  Pola asuh bina kasih (induction)
b)  Pola asuh unjuk kuasa (power assertion)
c)  Pola asuh lepas kasih (love withdrawal)

2.    Lingkungan Sekolah
a)      Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan rangsang kepada mereka kearah perilaku yang bermanfaat.
b)      Perlu sering diadakan kegiatan kerja bakti , bakti karya untuk dapat mempelajari remaja bersosialisasi sesamanya dan masyarakat.














BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
 Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut.
v  Perkembangan social adalah berkembangnya tingkat hubungan antarmanusia sehubungan dengan meningkatnya kenutuhan hidup manusia.
v  Perhatian Maria mulai tertuju pada pergaulan di dalam masyarakat dan mereka membutuhkan pemahaman tentang norma kehidupan yang kompleks. Pergaulan Maria banyak diwujudkan dalam bentuk kehidupan kelompok terutama kelompok sebaya.
v  Perkembangan social Maria dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : kondisi keluarga, kematangan anak, status social ekonomi keluarga, pendidikan, dan kapasitas mental terutama intelek dan emosi.
v  Hubungan Maria terutama yang berkaitan dengan proses penyesuaian diri berpengaruh terhadap tingkah laku, keras,  remaja yang bersifat egois dan sebagainya.
4.2  Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, penyusun menyarankan setiap calon pendidik dapat memahami konsep perkembangan sosial peserta didiknya. Dan untuk orang tua harus mengasuh anaknya dengan kasih saying (kasih) agar perkembangan sianak norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.


Daftar Pustaka

Kurnia, inggrid dkk. 2007. Perkembangan Belajar Peserta Didik. Tidak diterbitkan.
Sunarto & Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
______. 2010. Perkembangan Hubungan Sosial Remaja. (Online). (http://prince-mienu.blogspot.com/2010/01/makalah-tentang-perkembangan-hubungan.html). Diakses tanggal 2 Nopember 2011.
_______.2007. Perkembangan Sosial Anak. (Online). (http://h4md4ni.wordpress.com/perkembang-anak/). Diakses tanggal 24 Nopember 2011.
_______.2010. Perkembangan Hubungan Sosial. (Online). (http://www.g-excess.com/id/makalah-dan-pengertian-hubungan-sosial.html). Diakses tanggal 4 Desember 2011